<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bintang Sariyatno &#187; Budaya</title>
	<atom:link href="http://sariyatno.com/category/budaya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sariyatno.com</link>
	<description>ela sampai itah dia bingat narai je kuan tatu hiang huran</description>
	<lastBuildDate>Sun, 26 Jul 2009 12:35:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>BETANG</title>
		<link>http://sariyatno.com/2009/04/09/betang/</link>
		<comments>http://sariyatno.com/2009/04/09/betang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Apr 2009 15:50:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bintang Sariyatno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Profil]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[betang]]></category>
		<category><![CDATA[hejot]]></category>
		<category><![CDATA[pambakas lewu]]></category>
		<category><![CDATA[patahu]]></category>
		<category><![CDATA[sapundu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sariyatno.com/?p=185</guid>
		<description><![CDATA[Pada masa lalu, kehidupan suku &#8211; suku Dayak yang berdiam di pedalaman Kalimantan itu hidup secara berkelompok &#8211; kelompok. Dimana kehidupan yang mereka jalani pasti dilalui bersama, hal itu terwujud dalam sebuah karya yaitu, Betang.
Betang memiliki keunikkan tersendiri dapat diamati dari bentuknya yang memanjang serta terdapat hanya terdapat sebuah tangga dan pintu masuk ke dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Pada masa lalu, kehidupan suku &#8211; suku Dayak yang berdiam di pedalaman Kalimantan itu hidup secara berkelompok &#8211; kelompok. Dimana kehidupan yang mereka jalani pasti dilalui bersama, hal itu terwujud dalam sebuah karya yaitu, <em>Betang</em>.</p>
<div id="attachment_186" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-186" title="rumah_betang_tumbang_gagu" src="http://sariyatno.com/wp-content/uploads/rumah_betang_tumbang_gagu-300x200.jpg" alt="huma betang Tumbang Gagu" width="300" height="200" /><p class="wp-caption-text">Huma Betang Tumbang Gagu</p></div>
<p align="justify">Betang memiliki keunikkan tersendiri dapat diamati dari bentuknya yang memanjang serta terdapat hanya terdapat sebuah tangga dan pintu masuk ke dalam Betang. Tangga sebagai alat penghubung pada Betang dinamakan <em>hejot</em>. Betang yang dibangun tinggi dari permukaan tanah dimaksudkan untuk menghindari hal &#8211; hal yang meresahkan para penghuni Betang, seperti menghindari musuh yang dapat datang tiba &#8211; tiba, binatang buas, ataupun banjir yang terkadang melanda Betang. Hampir semua Betang dapat ditemui di pinggiran sungai &#8211; sungai besar yang ada di Kalimantan. Betang dibangun biasanya berukuran besar, panjangnya dapat mencapai 30 &#8211; 150 m serta lebarnya dapat mencapai sekitar 10 &#8211; 30 m, memiliki tiang yang tingginya sekitar 3 &#8211; 5 m. betang di bangun menggunakan bahan kayu yang berkualitas tinggi, yaitu kayu ulin (<em>Eusideroxylon zwageri</em> T et B), selain memiliki kekuatan yang bisa berdiri sampai dengan ratusan tahun serta anti rayap</p>
<p><span id="more-185"></span></p>
<p align="justify">Betang biasanya dihuni oleh 100 &#8211; 150 jiwa di dalamnya, sudah dapat dipastikan suasana yang ada di dalamnya. Betang dapat dikatakan sebagai rumah suku, karena selain di dalamnya terdapat satu keluarga besar yang menjadi penghuninya dan dipimpin pula oleh seorang <em>Pambakas Lewu</em>. Didalam betang terbagi menjadi beberapa ruangan yang dihuni oleh setiap keluarga.</p>
<p align="justify">Pada halaman depan Betang biasanya terdapat <em>balai</em> sebagai tempat menerima tamu maupun sebagai tempat pertemuan adat. Pada halaman depan Betang selain terdapat <em>balai</em> juga dapat dijumpai <em>sapundu</em>. <em>Sapundu</em> merupakan sebuah patung yang pada umumnya berbentuk manusia yang memiliki ukiran &#8211; ukiran yang khas. <em>Sapundu</em> memiliki fungsi sebagai tempat untuk mengikatkan binatang &#8211; binatang yang akan dikorbankan untuk prosesi upacara adat. Terkadang terdapat juga <em>Patahu</em> di halaman Betang yang berfungsi sebagai rumah pemujaan.</p>
<p align="justify">Pada bagian belakang dari Betang dapat ditemukan sebuah <em>balai</em> yang berukuran kecil yang dinamakan <em>tukau</em> yang digunakan sebagai gudang untuk menyimpan alat &#8211; alat pertanian, seperti <em>lisung</em> atau <em>halu</em>. Pada Betang juga terdapat sebuah tempat yang dijadikan sebagai tempat penyimpanan senjata, tempat itu biasa di sebut <em>bawong</em>. Pada bagian depan atau bagian belakang Betang biasanya terdapat pula <em>sandung</em>. <em>Sandung</em> adalah sebuah tempat penyimpanan tulang &#8211; tulang keluarga yang sudah meninggal serta telah melewati proses upacara <a href="http://sariyatno.com/2009/02/17/tiwah/"><em>tiwah</em></a>.</p>
<p align="justify">Salah satu kebiasaan suku Dayak adalah memelihara hewan, seperti anjing, burung, kucing, babi, atau sapi. Selain karena ingin merawat anjing, suku Dayak juga sangat membutuhkan peran anjing sebagai &#8220;teman&#8221; yang setia pada saat berburu di hutan belanntara. Pada zaman yang telah lalu suku Dayak tidak pernah mau memakan daging anjing, karena suku Dayak sudah menganggap anjing sebagai pendamping setia yang selalu menemani khususnya ketika berada di hutan. Karena sudah menganggap anjing sebagai bagian dari suku Dayak, anjing juga diberi nama layaknya manusia.</p>
<p align="justify">Sangat patut disayangkan seiring dengan modernisasi bangunan &#8211; bangunan masa sekarang, Betang kini hampir di ujung kepunahan, padahal Betang merupakan salah satu bentuk semangat serta perwujudan dari sebuah kebersamaan suku Dayak. Mungkin nanti Betang akan benar &#8211; benar punah tetapi merupakan tanggung jawab kita kepada leluhur untuk tetap mempertahankan semangat <em>huma Betang</em>. Patut kita sadari di dalam diri ini pasti terdapat rasa untuk tetap memperjuangkan kebudayaan dari leluhur.</p>
<p>Gambar diambil dari <a href="http://katingankab.go.id">http://katingankab.go.id</a></p>
<h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li>11 Mei 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/05/11/betangcom/" title="betang.COM">betang.COM</a> (11)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sariyatno.com/2009/04/09/betang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sumpit!</title>
		<link>http://sariyatno.com/2009/03/15/sumpit/</link>
		<comments>http://sariyatno.com/2009/03/15/sumpit/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Mar 2009 13:53:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bintang Sariyatno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Profil]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[Apu Kayan]]></category>
		<category><![CDATA[Bahau]]></category>
		<category><![CDATA[Dayak Pasir]]></category>
		<category><![CDATA[Ot Danum]]></category>
		<category><![CDATA[Punan]]></category>
		<category><![CDATA[Siang]]></category>
		<category><![CDATA[sipet]]></category>
		<category><![CDATA[sumpit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sariyatno.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[Sumpit atau lebih dikenal di daerah Kalimantan Tengah dengan sebutan sipet adalah salah satu senjata yang sering digunakan oleh suku Dayak maupun oleh masyarakat Melayu. Dari segi penggunaannya sumpit atau sipet ini memiliki keunggulan tersendiri karena dapat digunakan sebagai senjata jarak jauh dan tidak merusak alam karena bahan pembuatannya yang alami. Dan salah satu kelebihan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Sumpit atau lebih dikenal di daerah Kalimantan Tengah dengan sebutan <em>sipet</em> adalah salah satu senjata yang sering digunakan oleh suku Dayak maupun oleh masyarakat Melayu. Dari segi penggunaannya sumpit atau <em>sipet</em> ini memiliki keunggulan tersendiri karena dapat digunakan sebagai senjata jarak jauh dan tidak merusak alam karena bahan pembuatannya yang alami. Dan salah satu kelebihan dari sumpit atau <em>sipet</em> ini memiliki akurasi tembak yang dapat mencapai 218 yard atau sekitar 200 m.</p>
<p><img src="http://sariyatno.com/wp-content/uploads/carasumpit-300x206.jpg" alt="sumpit" title="sumpit" width="300" height="206" class="aligncenter size-medium wp-image-222" /></p>
<p align="justify">Dilihat dari bentuknya sumpit, sumpit memiliki bentuk yang bulat dan memiliki panjang antara 1,5 &#8211; 2 meter, berdiameter sekitar 2 &#8211; 3 sentimeter. Pada ujung sumpit ini diolah sasaran bidik seperti batok kecil seperti wajik yang berukuran 3 &#8211; 5 sentimeter. Pada bagian tengah dari sumpit dilubangi sebagai tempat masuknya <em>damek</em> (anak sumpit). Pada bagian bagian atas sumpit lebih tepatnya pada bagian depan sasaran bidik dipasang sebuah tombak atau <em>sangkoh</em> (bahasa Dayak). <em>Sangkoh</em> terbuat dari batu gunung yang lalu diikat dengan anyaman <em>uei</em> (rotan).</p>
<p align="justify">Jenis kayu yang biasanya digunakan untuk membuat sumpit pada umumnya adalah kayu tampang, kayu ulin/ <em>tabalien</em>, kayu plepek, dan kayu resak. Tak ketinggalan juga <em>tamiang</em> atau <em>lamiang</em>, yaitu sejenis bambu yang berukuran kecil, beruas panjang, keras, dan mengandung racun. Tidak semua orang memiliki keahlian dalam membuat sumpit atau <em>sipet</em>. Di Pulau Kalimantan saja hanya ada bebarapa suku saja yang memiliki keahlian dalam pembuatan sumpit, yaitu suku Dayak Ot Danum, Punan, Apu Kayan, Bahau, Siang, dan suku Dayak Pasir.</p>
<p><span id="more-168"></span></p>
<p align="justify">Dalam proses pembuatan sumpit atau <em>sipet</em> dilakukan dengan 2 cara, yaitu pertama ketrampilan tangan dari sang pembuat. Cara kedua, yaitu dengan menggunakan tenaga dari alam dengan memanfaatkan kekuatan arus air riam yang dibuat menjadi semacam kincir penumbuk padi. Harga jual sumpit atau <em>sipet</em> telah ditentukan oleh hukum adat, yaitu sebesar <em>jipen ije</em> atau <em>due halamaung taheta</em>. Menurut kepercayaan suku Dayak sumpit atau <em>sipet</em> ini tidak boleh digunakan untuk membunuh sesama. Sumpit atau <em>sipet</em> hanya dapat dipergunakan untuk keperluan sehari &#8211; hari, seperti berburu. <em>Sipet</em> ini tidak diperkenankan atau pantang diinjak &#8211; injak apalagi dipotong dengan parang karena jika hal tersebut dilakukan artinya melanggar hukum adat, yang dapat mengakibatkan pelakunya akan dituntut dalam rapat adat.</p>
<p>Dikutip dari &#8220;<em>Maneser Panatau Tatu Hiang</em>&#8221;</p>
<p>Gambar diambil dari <a href="http://malaysiana.pnm.my">http://malaysiana.pnm.my</a></p>
<h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li>12 Februari 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/02/12/kalimantan-tengah-kita/" title="Kalimantan Tengah Kita">Kalimantan Tengah Kita</a> (3)</li><li>9 April 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/04/09/betang/" title="BETANG">BETANG</a> (24)</li><li>12 Februari 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/02/12/gua-di-kalteng/" title="Gua di KalTeng">Gua di KalTeng</a> (6)</li><li>11 Mei 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/05/11/betangcom/" title="betang.COM">betang.COM</a> (11)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sariyatno.com/2009/03/15/sumpit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>36</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dayak?</title>
		<link>http://sariyatno.com/2009/03/06/dayak/</link>
		<comments>http://sariyatno.com/2009/03/06/dayak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 17:22:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bintang Sariyatno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Profil]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[dayak]]></category>
		<category><![CDATA[Kalimantan Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Kalimantan Timur]]></category>
		<category><![CDATA[melayu]]></category>
		<category><![CDATA[orang gunung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sariyatno.com/?p=141</guid>
		<description><![CDATA[Jika mendengar sebutan kata Dayak pasti akan teringat akan nama sebuah suku yang hidup dan menetap di pulau Kalimantan. Suku Dayak adalah nama suku yang memiliki budaya yang bersifat daratan bukan budaya maritim. Budaya daratan yang dimaksud disini adalah sebuah budaya yang hampir di setiap segi kehidupan suku tersebut dilakukan di daratan bukan di daerah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Jika mendengar sebutan kata <em>Dayak</em> pasti akan teringat akan nama sebuah suku yang hidup dan menetap di pulau Kalimantan. Suku Dayak adalah nama suku yang memiliki budaya yang bersifat daratan bukan budaya maritim. Budaya daratan yang dimaksud disini adalah sebuah budaya yang hampir di setiap segi kehidupan suku tersebut dilakukan di daratan bukan di daerah pesisir apalagi di lautan seperti budaya maritim. Hal itu dapat dilihat dari kegiatan sehari &#8211; harinya suku Dayak, seperti berburu, bertani, dan berkebun.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-143" title="kuala-lumpur-national-museum-dayak-head-hunter-from-sarawak" src="http://sariyatno.com/wp-content/uploads/kuala-lumpur-national-museum-dayak-head-hunter-from-sarawak-215x300.jpg" alt="uluh-dayak" width="215" height="300" /></p>
<p align="justify">Kata <em>Dayak</em> menurut R. Sunardi dan O. K. Rahmat, keduanya menyatakan bahwa <em>Dayak</em> adalah sebuah kata untuk menyatakan suatu kelompok yang tidak menganut agama Islam dan hidup menetap di pedalaman Kalimantan. Istilah ini juga yang diberikan oleh bangsa Melayu yang hidup di daerah pesisir Kalimantan yang berarti gunung. Bangsa Melayu pada waktu itu adalah sekelompok masyarakat yang tidak lain dan tidak bukan adalah masyarakat yang berasal dari daerah Melayu dan berbahasa Melayu pula.Tetapi akan lain pengertiannya jika yang disebut orang Melayu adalah orang <em>Dayak</em> yang sudah memeluk agama Islam.</p>
<p><span id="more-141"></span></p>
<p align="justify">Jika dilihat dari pandangan orang Dayak sendiri, yang disebut sebagai orang Melayu adalah sekelompok orang yang berasal dari daerah Melayu dan para pendatang lain yang berdatangan ke Kalimantan, kecuali kelompok Tionghoa, yang mendiami Kalimantan. Orang &#8211; orang Melayu mengatakan bahwa <em>Dayak</em> itu berarti <em>orang gunung</em>. Tidak ada kamus atau para ahli yang menyatakan bahwa kata <em>Dayak</em> itu berarti <em>orang gunung</em>, hal itu disebabkan karena sebagian besar dari orang <em>Dayak</em> menetap di daerah hulu sungai dan topografi tanahnya bergunung &#8211; gunung tetapi tidak berarti orang <em>Dayak</em> adalah <em>orang gunung</em>.  Di samping nama <em>Dayak</em> ada juga istilah <em>Dyak</em> . Istilah <em>Dyak</em> ini diberikan oleh orang Inggris dulu kepada suku &#8211; suku Dayak di Kalimantan Utara (Malaysia).</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-158" title="acara balian" src="http://sariyatno.com/wp-content/uploads/balian-300x195.jpg" alt="acara balian" width="300" height="195" /></p>
<p align="justify">Suku Dayak yang Menetap di pulau Kalimantan itu tersebar di seluruh bagian Kalimantan dan hidup tersebar &#8211; sebar, di daerah hulu sungai, di daerah yang tofografinya gunung &#8211; gunung, lembah &#8211; lembah, dan di kaki bukit. Untuk menyebut jati diri mereka, orang Dayak biasanya memakai nama aliran sungai besar yang daerah pesisirnya mereka diami. Misalnya orang Dayak yang mendiami daerah pesisir sungai Kahayan, mereka menyebut jati diri mereka sebagai <em>uluh Kahayan</em> (orang Kahayan). Ada <em>uluh Katingan, uluh Barito, dan lain sebagainya</em>.</p>
<p align="justify">Di antara orang &#8211; orang Dayak itu sendiri , ada sekelompok orang yang berkeberatan memakai kata <em>Dayak</em> sehingga muncullah istilah yang lain, yairu <em>Daya</em>. Istilah <em>Daya</em> ini sangat populer di daerah Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. Kata <em>Dayak</em> dan <em>Daya</em> sebenarnya merujuk pada satu suku saja, yaitu suku Dayak. Dan dalam bahasa Dayak Ngaju kedua kata itu merupakan sebuah kata sifat yang menunjuk pada suatu kekuatan. Dalam bahasa Sangen kata <em>Dayak</em> dan <em>Daya</em> itu berarti bakena (gagah).</p>
<p>Di kutip dari <em>&#8220;Encyclopoedie Nederlandsch Indie Op Het Woord Dayak&#8221;</em></p>
<p>Gambar di ambil dari <a href="http://www.kualalumpurcentral.com">http://www.kualalumpurcentral.com</a></p>
<h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li>25 Februari 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/02/25/mandau/" title="Mandau!">Mandau!</a> (45)</li><li>9 April 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/04/09/betang/" title="BETANG">BETANG</a> (24)</li><li>12 Februari 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/02/12/kalimantan-tengah-kita/" title="Kalimantan Tengah Kita">Kalimantan Tengah Kita</a> (3)</li><li>15 Maret 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/03/15/sumpit/" title="Sumpit!">Sumpit!</a> (36)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sariyatno.com/2009/03/06/dayak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mandau!</title>
		<link>http://sariyatno.com/2009/02/25/mandau/</link>
		<comments>http://sariyatno.com/2009/02/25/mandau/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2009 08:10:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bintang Sariyatno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Profil]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[jangang]]></category>
		<category><![CDATA[kayu kayamihing]]></category>
		<category><![CDATA[kumpang]]></category>
		<category><![CDATA[mandau]]></category>
		<category><![CDATA[mantikei]]></category>
		<category><![CDATA[pulang mandau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sariyatno.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Pada jaman dulu jika terjadi peperangan, suku Dayak pada umumnya menggunakan senjata khas mereka, yaitu mandau. Mandau merupakan sebuah pusaka yang secara turun &#8211; temurun yang digunakan oleh suku Dayak dan diaanggap sebagai sebuah benda keramat. Selain digunakan pada saat peperangan mandau juga biasanya dipakai oleh suku Dayak untuk menemani mereka dalam melakukan kegiatan keseharian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Pada jaman dulu jika terjadi peperangan, suku Dayak pada umumnya menggunakan senjata khas mereka, yaitu <em>mandau</em>. <em>Mandau</em> merupakan sebuah pusaka yang secara turun &#8211; temurun yang digunakan oleh suku Dayak dan diaanggap sebagai sebuah benda keramat. Selain digunakan pada saat peperangan mandau juga biasanya dipakai oleh suku Dayak untuk menemani mereka dalam melakukan kegiatan keseharian mereka, seperti menebas atau memotong daging, tumbuh &#8211; tumbuhan, atau benda &#8211; benda lainnya yang perlu untuk di potong.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-114" title="mandau" src="http://sariyatno.com/wp-content/uploads/mandau.jpg" alt="mandau" width="170" height="300" /></p>
<p align="justify">Biasanya orang awam akan sering kebingungan antara <em>mandau</em> dan <em>ambang</em>, Orang awam atau orang yang tidak terbiasa melihat atau pun memegang <em>mandau</em> akan sulit untuk membedakan antara <em>mandau</em> dengan <em>ambang</em> karena jika dilihat secara kasat mata memang keduanya hampir sama. Tetapi, keduanya sangatlah berbeda. Namun jika kita melihatnya dengan lebih detail maka akan terlihat perbedaan yang sangat mencolok, yaitu pada <em>mandau</em> terdapat ukiran atau bertatahkan emas, tembaga, atau perak dan <em>mandau</em> lebih kuat serta lentur, karena mandau terbuat dari batu gunung yang mengandung besi dan diolah oleh seorang ahli, sedangkan <em>ambang</em> hanya terbuat dari besi biasa, seperti besu per mobil, bilah gergaji mesin, cakram kendaraan atau batang besi lain.</p>
<p><span id="more-113"></span></p>
<p align="justify"><em>Mandau</em> atau <em>Ambang Birang Bitang Pono Ajun Kajau</em> harus disimpan dan dirawat dengan baik ditempat khusus untuk penghormatan. Karena suku Dayak yakin bahwa <em>mandau</em> memiliki kekuatan spiritual yang mampu melindungi pemiliknya dari serangan atau niat jahat dari lawan &#8211; lawannya. Dan <em>mandau</em> juga diyakini dijaga oleh seorang perempuan, dan jika pemilik <em>mandau</em> tersebut bermimpi bertemu dengan perempuan yang menghuni <em>mandau</em>, berarti sang pemilik akan mendapatkan rejeki.</p>
<p align="justify"><em>Mandau</em> selain dibuat dari besi batuan gunung lalu diukir, <em>pulang</em> atau hulu mandau (tempat untuk memegang) dibuat berukiran dengan menggunakan tanduk kerbau untuk yang <em>pulangnya</em> berwarna hitam. Dan menggunakan tanduk rusa untuk <em>pulang</em> yang berwarna putih. Pembuatan <em>pulang</em> dapat juga menggunakan kayu <em>kayamihing</em>. Pada bagian ujung dari <em>pulang</em> diberi atau ditaruh bulu binatang atau rambut manusia. Untuk dapat melengkatkan sebuah <em>mandau</em> dengan <em>pulang</em> dapat menggunakan getah kayu <em>sambun</em> yang terbukti sangat kuat kerekatannya.Setelah itu kemudian diikat lagi dengan <em>jangang</em>, namun jika <em>jangang</em> sulit ditemukan dapat menggunakan <em>uei</em> (anyaman rotan).</p>
<p><img class="aligncenter size-thumbnail wp-image-122" title="kuluk-mandau2" src="http://sariyatno.com/wp-content/uploads/kuluk-mandau2-150x150.jpg" alt="kuluk-mandau2" width="150" height="150" /></p>
<p align="justify">Besi <em>mantikei</em> yang digunakan untuk bahan baku pembuatan <em>mandau</em> dapat ditemukan didaerah Kerang Gambir, sungai Karo Jangkang, sungai Mantikei anak sungai Samba simpangan sungai Katingan, dan desa Tumbang Atei.</p>
<p align="justify">Tidak lengkap kiranya jika <em>mandau</em> tidak memiliki <em>kumpang</em>.    <em>Kumpang</em> ialah sebutan sarung untuk <em>mandau</em>, <em>kumpang mandau</em> merupakan tampat masuknya mata <em>mandau</em> biasanya dilapisi tanduk rusa. Pada <em>kumpang mandau</em> diberi <em>tempuser undang</em>, yaitu ikatan yang terbuat dari anyaman <em>uei</em> (rotan).</p>
<p align="justify">Pada bagian depan <em>kumpang</em> dibuat sebuah sarung kecil tempat menyimpan <em>langgei Puai</em>. <em>Langgei Puai</em> adalah sejenis pisau kecil sebagai pelengkap <em>mandau</em>. Tangkainya panjang sekitar 20 cm dari mata <em>langgei</em>, bentuknya lebih kecil dari pada tangkainya. Fungsi dari <em>langgei puai</em> adalah untuk menghaluskan atau membersihkan benda &#8211; benda, contohnya rotan. Sarung atau <em>kumpang langgei</em> selalu melekat pada <em>kumpang mandau</em>. Sehingga dapat dikatakan bahwa antara <em>mandau</em> dan <em>langgei puai</em> adalah sebuah kesatuan yang tidak dapat terpisahkan.</p>
<p>Di kutip dari buku <em>&#8220;Maneser Panatau Tatu Hiang&#8221;</em></p>
<p>Gambar diambil dari <a href="http://www.valiantco.com">http://www.valiantco.com</a></p>
<h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li>6 Maret 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/03/06/dayak/" title="Dayak?">Dayak?</a> (23)</li><li>15 Maret 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/03/15/sumpit/" title="Sumpit!">Sumpit!</a> (36)</li><li>25 Juli 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/07/25/hutan-hujan-tropis/" title="Hutan Hujan Tropis ">Hutan Hujan Tropis </a> (17)</li><li>12 Februari 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/02/12/gua-di-kalteng/" title="Gua di KalTeng">Gua di KalTeng</a> (6)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sariyatno.com/2009/02/25/mandau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TIWAH?</title>
		<link>http://sariyatno.com/2009/02/17/tiwah/</link>
		<comments>http://sariyatno.com/2009/02/17/tiwah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Feb 2009 13:58:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bintang Sariyatno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Profil]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Basir]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu Kaharingan]]></category>
		<category><![CDATA[Kalimantan Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Pisur]]></category>
		<category><![CDATA[Raja Bunu]]></category>
		<category><![CDATA[Ranying Hatalla Langit]]></category>
		<category><![CDATA[Tiwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sariyatno.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin ada yang pernah mengetahui apa itu Tiwah, mungkin juga ada yang nggak tahu atau bahkan nggak pernah denger Tiwah.
Kata Tiwah berasal dari bahasa Sangiang, bahasa Sangiang adalah bahasa yang digunakan oleh salah satu agama di Kalimantan Tengah, yaitu agama Hindu Kaharingan. Bahasa Sangiang biasanya digunakan oleh pemimpin  agama Hindu Kaharingan untuk memimpin suatu acara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Mungkin ada yang pernah mengetahui apa itu Tiwah, mungkin juga ada yang nggak tahu atau bahkan nggak pernah denger Tiwah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kata Tiwah berasal dari bahasa Sangiang, bahasa Sangiang adalah bahasa yang digunakan oleh salah satu agama di Kalimantan Tengah, yaitu agama Hindu Kaharingan. Bahasa Sangiang biasanya digunakan oleh pemimpin  agama Hindu Kaharingan untuk memimpin suatu acara keagamaan. Upacara Tiwah menurut masyarakat Kalimantan Tengah pada umumnya menganggap bahwa Tiwah adalah sebuah adat, tetapi menurut masyarakat pemeluk agama Hindu Kaharingan Tiwah merupakan proses mengantarkan arwah atau dalam bahasa Dayaknya liau ke surga atau  dalam bahasa Sangiangnya mengantarkan ke &#8220;Lewu Tatau Habaras Bulau Hagusung Intan Dia Rumpang Tulang&#8221;, yang berarti sebuah tempat yang kekal atau abadi dan tempat itu berhiaskan emas, permata, berlian, dll.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-75" title="tiwah1" src="http://sariyatno.com/wp-content/uploads/tiwah1.jpg" alt="tiwah1" width="156" height="153" /></p>
<p style="text-align: justify;">Liau atau arwah disini di bagi menjadi 3 bagian, yaitu:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Balawang Panjang, contohnya seperti: rambut atau kuku.</li>
<li>Karahang Tulang, contohnya: tulang belulang.</li>
<li>Liau Haring Kaharingan adalah arwah atau roh yang sebenarnya.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-71"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Upacara Tiwah ini dipimpin oleh Basir atau Pisur. Basir adalah seseorang yang memiliki kemampuan dalam memimpin upacara &#8211; upacara keagamaan agama Hindu Kaharingan khususnya Hindu Kaharingan di daerah Kahayan. Pisur yaitu sama seperti Basir tetapi Pisur memimpin Upacara keagamaan agama Hindu Kaharingan di daerah Katingan. Pada umumnya upacara yang di pimpin oleh Basir relatif  lebih lama berkisar 2 bulan  dari pada upacara yang di pimping oleh Pisur.</p>
<p style="text-align: justify;">Upacara Tiwah pada umumnya dilakukan 5 tahun sekali, tetapi sesuai dengan kesepakan keluarga yang hendak malakukan upacara Tiwah. Menurut agama Hindu Kaharingan Tiwah harus dilaksanakan karena sebagai rasa tanggung jawab kepada arwah dan bertujuan untuk mengantarkan si arwah atau liau ke Lewu Tatau (surga). Upacara Tiwah juga bisa menjadi suatu kunjungan wisata keagamaan yang menarik.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut kepercayaan agama Hindu Kaharingan, manusia berasal dari keturunan Raja Bunu yang menuju jalan pulang ke Ranying Hatalla Langit (Tuhan Yang Maha Esa).</p>
<p style="text-align: justify;">Siapa Raja Bunu?</p>
<p style="text-align: justify;">Raja Bunu adalah anak dari pasangan Manyamei Tunggul Garing Janjahunan Laut dan Kameloh Putak Bulau janjulen Karangan Limut Batu Kamasan Tambun (panjang banget namanya!!). Manyamei Tunggul Garing dan Kameloh Putak Bulau merupakan menurut Hindu Kaharingan adalah manusia yang pertama kali diciptakan oleh Ranying Hatalla Langit (Tuhan). Dan Raja Bunu memeng diwariskan untuk menghuni bumi dengan ciri &#8211; ciri keturunannya bisa mati atau meninggal setelah keturunan ke sembilan. CIri &#8211; ciri yang lain adalah raja Bunu tidak bisa menginang, maka diganti makanannya diganti menjadi beras, lauk &#8211; pauk, dll. Seperti makanan kita sekarang ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Raja Bunu di anugrahi oleh Ranying Hatalla Langit (Tuhan) sebuah besi (Sanaman Lenteng). Sanaman Lenteng adalah sebuah besi yang tidak sengaja ditemukan oleh Raja Bunu sewaktu ia bermain d sungai dengan kedua saudaranya. Kedua saudara Raja Bunu itu masing &#8211; masing bernama Raja Sangen dan Raja Sangiang. Besi yang ditemukan oleh tiga bersaudara ini &#8220;aneh&#8221;, karena yang satu ujung besinya timbul ke permukaan air dan ujung yang lain tenggelam. Kalo di analogikan aneh, seharusnya seluruh batang besi itu tenggelam. Raja Bunu secara tidak sengaja memegang ujung Sanaman Lenteng yang tenggelam dan kedua saudaranya memegang ujung yang timbul ke permukaan air, sehingga menurut ceritanya gara- gara Raja Bunu tidak sengaja memegang ujung dari Sanaman Lenteng yang tenggelam, maka kehidupannya tidak abadi seperti kedua saudaranya yang lain, yaitu Raja Sangen dan Raja Sangiang. Besi yang mereka dapati itu akhirnya dibuat menjadi Dohong Papan Benteng (sejenis alat khas yang bentuknya seperti pisau) oleh ayah mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Raja Bunu dan kedua saudaranya dianugrahi juga oleh Ranying Hatalla Langit seekor burung yang bernama Gajah Bakapek Bulau Unta Hajaran Tandang Barikur Hintan. Mereka dianugrahi seekor burung itu ketika mereka sedang berada disebuah bukit yang bernama Bukit Engkan Penyang.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika mereka sudah mendapati burung itu, rupanya tiga saudara itu tidak ada yang mau mengalah dan terus berebut untuk mendapatkan burung itu. Tiba &#8211; tiba Raja Sangen menghunus dohongnya lalu menghujamkannya kearah burung itu. Sehingg, darah burung itu pun keluar dan Raja Sangen pun berinisiatif untuk menampung darah burung tersebut ke sebuah sangku (sejenis mangkok). Dan dengan sekejap darah burung yang ditampung di dalam sangku itu pun berubah mneenjadi emas, berlian, dan permata.</p>
<p style="text-align: justify;">Rupanya ayah ketiga bersaudara itu mengetahui perrbuatan ketiga anaknya itu. Maka, dengan kesaktiannya sang ayah pun pergi menemui ketiga anaknya itu. Sesampainya di sana Manyamei Tunggul Garing (ayah mereka) melihat apa yang telah diperbuat oleh anaknya karena sang ayah merasa iba kepada burung itu dan takut ketiga anaknya &#8220;kualat&#8221; dengan Ranying Hatalla Langit atas perbuatan anak &#8211; anaknya, sang ayah pun dengan kesaktiannya menyembuhkan luka pada burung itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena rasa iri terhadap saudaranya yang mendapatkan emas, berlian, dll itu. Maka, Raja Sangiang pun menghujamkan dohongnya kearah burung itu sehingga darah burung itu pun keluar dengan derasnya dan ia pun melakukan hal yang sama yaitu mengambi sangku untuk menampung darah burung itu. Kejadiannya pun sama persis dengan yang didapatkan oleh Raja Sangen yaitu, emas, berlian, dll. Dan ayah mereka pun akhirnya menyembuhkan luka pada burung tersebut. Sehingga, burung itu pun sehat kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan lagi &#8211; lagi keserakahan dan rasa iri itu menghinggapi Raja Bunu. Ia pun melakukan apa yang telah dilakukan oleh kedua saudaranya itu dan ia pun mendapatkan hasil yang sama seperti yang diperoleh oleh kedua saudaranya. Dan lagi &#8211; lagi sang ayah pun karena merasa iba akan burung itu maka ia pun menyembuhkan luka burung itu. Tetapi rupanya luka burung itu tidak dapat sembuh seperti sedia kala. Akhirnya burung itu terbang dengan membawa luka dan darahnya menetes membasahi wilayah it. Darah burung yang menetes itulah yang kemudian menjadi kekayaan yang berlimpah ruah. Karena kondisi fisik burung itu yang semakin lelah dan lukanya semakin parah, burung itu pun akhirnya mati.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya tempat burung itu mati dipenuhi dengan kekayaan yang abadi, dan menurut kepercayaan agama Hindu Kaharingan tempat itu disebut dengan Lewu Tatau (Surga).</p>
<p style="text-align: justify;">Foto diambil dari<a href="http://www.kalteng.go.id"> http://www.kalteng.go.id </a></p>
<h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li>11 Mei 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/05/11/betangcom/" title="betang.COM">betang.COM</a> (11)</li><li>14 Februari 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/02/14/oh-palangka-raya/" title="oh, Palangka Raya!!">oh, Palangka Raya!!</a> (15)</li><li>12 Februari 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/02/12/gua-di-kalteng/" title="Gua di KalTeng">Gua di KalTeng</a> (6)</li><li>12 Februari 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/02/12/kalimantan-tengah-kita/" title="Kalimantan Tengah Kita">Kalimantan Tengah Kita</a> (3)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sariyatno.com/2009/02/17/tiwah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
