<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bintang Sariyatno &#187; Sejarah</title>
	<atom:link href="http://sariyatno.com/category/sejarah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sariyatno.com</link>
	<description>ela sampai itah dia bingat narai je kuan tatu hiang huran</description>
	<lastBuildDate>Sun, 26 Jul 2009 12:35:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Hutan Hujan Tropis</title>
		<link>http://sariyatno.com/2009/07/25/hutan-hujan-tropis/</link>
		<comments>http://sariyatno.com/2009/07/25/hutan-hujan-tropis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 10:08:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bintang Sariyatno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Sumber Daya]]></category>
		<category><![CDATA[anggek]]></category>
		<category><![CDATA[calamae]]></category>
		<category><![CDATA[hutan hujan tropis]]></category>
		<category><![CDATA[kelakai]]></category>
		<category><![CDATA[liana]]></category>
		<category><![CDATA[orchidaceae]]></category>
		<category><![CDATA[rotan]]></category>
		<category><![CDATA[Stenochiaena palustris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sariyatno.com/?p=258</guid>
		<description><![CDATA[Hutan dapat dikatakan sebagai salah satu sumber daya yang sangat dibutuhkan bagi kelangsungan bumi, didalam lebatnya hutan tersimpan berbagai kekayaan yang jika dilihat dan diperhatikan mimiliki banyak sekali keunggulan. Keunggulan yang dapat dilihat secara langsung adalah keanekaragaman biodiversity yang cukup tinggi dalam suatu ekosistem. Biodiversity yang dimaksudkan adalah seluruh mahkluk hidup yang ada di dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Hutan dapat dikatakan sebagai salah satu sumber daya yang sangat dibutuhkan bagi kelangsungan bumi, didalam lebatnya hutan tersimpan berbagai kekayaan yang jika dilihat dan diperhatikan mimiliki banyak sekali keunggulan. Keunggulan yang dapat dilihat secara langsung adalah keanekaragaman biodiversity yang cukup tinggi dalam suatu ekosistem. Biodiversity yang dimaksudkan adalah seluruh mahkluk hidup yang ada di dalam ekosistem hutan itu sendiri. Contohnya: flora dan fauna.</p>
<p><a href="http://sariyatno.com/wp-content/uploads/114.jpg"><img src="http://sariyatno.com/wp-content/uploads/114-300x203.jpg" alt="Hutan Hujan Pegunungan" title="Hutan Hujan Pegunungan" width="300" height="203" class="aligncenter size-medium wp-image-265" /></a></p>
<p align="justify">Hutan hujan tropis merupakan salah satu jenis hutan yang ada di dunia, hutan hujan tropis sering disebut sebagai <em>hutan tropis basah</em>. Atas dasar pembagian daerah secara iklim menurut Koppen, zona hutan hujan tropis ini termasuk yang memiliki iklim <strong>Af</strong>, yang memiliki ciri-ciri utama antara lain: memiliki banyak curah hujan antara 2.000 sampai dengan 5.000 mm/tahun, dengan pola curah hujan tersebut dapat dipastikan Indonesia khususnya daerah Pulau Kalimantan merupakan daerah yang memiliki hutan hujan tropis ini.</p>
<p align="justify">Menurut asal-usul pembentukan hutan hujan tropis, diperoleh bahwa hutan hujan tropis merupakan komunitas hasil interaksi antara <strong>iklim regional</strong> dan <strong>biota regional</strong>. Vegetasi hutan hujan tropis tidak akan pernah mengalami gugur daun seperti hutan yang ada di daerah-daerah subtropis, seperti sebagian besar Eropa, Asia Timur, dan daerah Asia Barat. Sehingga dedaunan yang hidup didaerah hutan hujan tropis akan selalu berwarna hijau sepanjang tahun (<em>evergreen</em>). Vegetasi yang ada didaerah hutan hujan tropis ini mayoritas ditumbuhi oleh tumbuhan berkayu dan berukuran pohon, memiliki batang bebas cabang antara 30 sampai dengan 50 meter dari permukaan tanah, banyak ditemukan berbagai tumbuhan epifit serta Liana (tumbuhan memanjat) berkayu. Contohnya: Anggrek (Orchidaceae) dan rotan (Calamae), merupakan keluarga palem yang hidup memanjat pada tumbuhan lain biasanya pada tumbuhan berkayu.</p>
<p align="justify">Jika dibandingkan dengan jenis hutan lain didunia, hutan hujan tropis memiliki keanekaragaman jenis flora dan fauna yang relatif tertinggi didunia. Keanekaragaman pohon dengan diameter lebih dari 10 cm dapat mencapai lebih dari 100 jenis/ha. Salah satu flora yang hidup di Kalimantan Tengah adalah kelakai (<em>Stenochiaena palustris</em>). Dengan ciri sistem kehidupan di dalamnya dibandingkan dengan sistem kehidupan lainnya  secara alami hutan hujan tropis merupakan ekosistem hutan yang paling stabil didunia. Keanekaragaman jenis yang hidup dihutan hujan tropis ini sangat tinggi. Fauna hutan hujan tropis menempati semua lapisan tajuk. Kebanyakan hewan yang hidup merupakan hewan <em>nokturnal</em> (hewan yang aktif pada malam hari) dan <em>arboreal</em> (hewan yang hidup dipohon).</p>
<p align="justify">Hutan hujan tropis memiliki fungsi yang vital bagi keberlangsungan hidup semua makhluk yang ada di bumi, dalam hal iklim dunia. Hutan hujan tropis sangat membantu sekali dalam hal menstabilkan iklim dunia dengan cara menyerap karbon dioksida yang ada diatmosfer, sehingga mengurangi pula dalam hal efek rumah kaca. Hutan hujan tropis juga merupakan rumah atau habitat bagi keberlangsungan hidup bagi makhluk hidup yang tinggal didalamnya, termasuk flora dan fauna yang terancam punah keberlangsungan hidupnya. Pada saat banyak pihak yang tidak bertanggung jawab melakukan penebangan hutan secara liar (ilegal logging), hal ini dapat mengakibatkan kepunahan berbagai spesies yang hidup.</p>
<p align="justify">Selain fungsi fungsi tersebut ada pula fungsi yang sangat vital, yaitu sebagai suatu sistem peredaran hidrologi bagi bumi. hal ini menggambarkan pergerakkan yang berkelanjutan dari air dibawah, dipermukaan, dan diatas bumi. Jadi tidak heran jika hutan hujan tropis yang masih &#8220;perawan&#8221; memiliki sungai-sungai yang lebar serta panjang.
</p>
<p>Gambar diambil dari <a href="http://kalteng.go.id">http://kalteng.go.id</a></p>
<h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li>11 Mei 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/05/11/betangcom/" title="betang.COM">betang.COM</a> (11)</li><li>9 April 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/04/09/betang/" title="BETANG">BETANG</a> (24)</li><li>12 Februari 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/02/12/gua-di-kalteng/" title="Gua di KalTeng">Gua di KalTeng</a> (6)</li><li>15 Maret 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/03/15/sumpit/" title="Sumpit!">Sumpit!</a> (36)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sariyatno.com/2009/07/25/hutan-hujan-tropis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sumpit!</title>
		<link>http://sariyatno.com/2009/03/15/sumpit/</link>
		<comments>http://sariyatno.com/2009/03/15/sumpit/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Mar 2009 13:53:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bintang Sariyatno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Profil]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[Apu Kayan]]></category>
		<category><![CDATA[Bahau]]></category>
		<category><![CDATA[Dayak Pasir]]></category>
		<category><![CDATA[Ot Danum]]></category>
		<category><![CDATA[Punan]]></category>
		<category><![CDATA[Siang]]></category>
		<category><![CDATA[sipet]]></category>
		<category><![CDATA[sumpit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sariyatno.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[Sumpit atau lebih dikenal di daerah Kalimantan Tengah dengan sebutan sipet adalah salah satu senjata yang sering digunakan oleh suku Dayak maupun oleh masyarakat Melayu. Dari segi penggunaannya sumpit atau sipet ini memiliki keunggulan tersendiri karena dapat digunakan sebagai senjata jarak jauh dan tidak merusak alam karena bahan pembuatannya yang alami. Dan salah satu kelebihan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Sumpit atau lebih dikenal di daerah Kalimantan Tengah dengan sebutan <em>sipet</em> adalah salah satu senjata yang sering digunakan oleh suku Dayak maupun oleh masyarakat Melayu. Dari segi penggunaannya sumpit atau <em>sipet</em> ini memiliki keunggulan tersendiri karena dapat digunakan sebagai senjata jarak jauh dan tidak merusak alam karena bahan pembuatannya yang alami. Dan salah satu kelebihan dari sumpit atau <em>sipet</em> ini memiliki akurasi tembak yang dapat mencapai 218 yard atau sekitar 200 m.</p>
<p><img src="http://sariyatno.com/wp-content/uploads/carasumpit-300x206.jpg" alt="sumpit" title="sumpit" width="300" height="206" class="aligncenter size-medium wp-image-222" /></p>
<p align="justify">Dilihat dari bentuknya sumpit, sumpit memiliki bentuk yang bulat dan memiliki panjang antara 1,5 &#8211; 2 meter, berdiameter sekitar 2 &#8211; 3 sentimeter. Pada ujung sumpit ini diolah sasaran bidik seperti batok kecil seperti wajik yang berukuran 3 &#8211; 5 sentimeter. Pada bagian tengah dari sumpit dilubangi sebagai tempat masuknya <em>damek</em> (anak sumpit). Pada bagian bagian atas sumpit lebih tepatnya pada bagian depan sasaran bidik dipasang sebuah tombak atau <em>sangkoh</em> (bahasa Dayak). <em>Sangkoh</em> terbuat dari batu gunung yang lalu diikat dengan anyaman <em>uei</em> (rotan).</p>
<p align="justify">Jenis kayu yang biasanya digunakan untuk membuat sumpit pada umumnya adalah kayu tampang, kayu ulin/ <em>tabalien</em>, kayu plepek, dan kayu resak. Tak ketinggalan juga <em>tamiang</em> atau <em>lamiang</em>, yaitu sejenis bambu yang berukuran kecil, beruas panjang, keras, dan mengandung racun. Tidak semua orang memiliki keahlian dalam membuat sumpit atau <em>sipet</em>. Di Pulau Kalimantan saja hanya ada bebarapa suku saja yang memiliki keahlian dalam pembuatan sumpit, yaitu suku Dayak Ot Danum, Punan, Apu Kayan, Bahau, Siang, dan suku Dayak Pasir.</p>
<p><span id="more-168"></span></p>
<p align="justify">Dalam proses pembuatan sumpit atau <em>sipet</em> dilakukan dengan 2 cara, yaitu pertama ketrampilan tangan dari sang pembuat. Cara kedua, yaitu dengan menggunakan tenaga dari alam dengan memanfaatkan kekuatan arus air riam yang dibuat menjadi semacam kincir penumbuk padi. Harga jual sumpit atau <em>sipet</em> telah ditentukan oleh hukum adat, yaitu sebesar <em>jipen ije</em> atau <em>due halamaung taheta</em>. Menurut kepercayaan suku Dayak sumpit atau <em>sipet</em> ini tidak boleh digunakan untuk membunuh sesama. Sumpit atau <em>sipet</em> hanya dapat dipergunakan untuk keperluan sehari &#8211; hari, seperti berburu. <em>Sipet</em> ini tidak diperkenankan atau pantang diinjak &#8211; injak apalagi dipotong dengan parang karena jika hal tersebut dilakukan artinya melanggar hukum adat, yang dapat mengakibatkan pelakunya akan dituntut dalam rapat adat.</p>
<p>Dikutip dari &#8220;<em>Maneser Panatau Tatu Hiang</em>&#8221;</p>
<p>Gambar diambil dari <a href="http://malaysiana.pnm.my">http://malaysiana.pnm.my</a></p>
<h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li>11 Mei 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/05/11/betangcom/" title="betang.COM">betang.COM</a> (11)</li><li>6 Maret 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/03/06/dayak/" title="Dayak?">Dayak?</a> (23)</li><li>17 Februari 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/02/17/tiwah/" title="TIWAH?">TIWAH?</a> (39)</li><li>25 Juli 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/07/25/hutan-hujan-tropis/" title="Hutan Hujan Tropis ">Hutan Hujan Tropis </a> (17)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sariyatno.com/2009/03/15/sumpit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>36</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dayak?</title>
		<link>http://sariyatno.com/2009/03/06/dayak/</link>
		<comments>http://sariyatno.com/2009/03/06/dayak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 17:22:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bintang Sariyatno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Profil]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[dayak]]></category>
		<category><![CDATA[Kalimantan Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Kalimantan Timur]]></category>
		<category><![CDATA[melayu]]></category>
		<category><![CDATA[orang gunung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sariyatno.com/?p=141</guid>
		<description><![CDATA[Jika mendengar sebutan kata Dayak pasti akan teringat akan nama sebuah suku yang hidup dan menetap di pulau Kalimantan. Suku Dayak adalah nama suku yang memiliki budaya yang bersifat daratan bukan budaya maritim. Budaya daratan yang dimaksud disini adalah sebuah budaya yang hampir di setiap segi kehidupan suku tersebut dilakukan di daratan bukan di daerah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Jika mendengar sebutan kata <em>Dayak</em> pasti akan teringat akan nama sebuah suku yang hidup dan menetap di pulau Kalimantan. Suku Dayak adalah nama suku yang memiliki budaya yang bersifat daratan bukan budaya maritim. Budaya daratan yang dimaksud disini adalah sebuah budaya yang hampir di setiap segi kehidupan suku tersebut dilakukan di daratan bukan di daerah pesisir apalagi di lautan seperti budaya maritim. Hal itu dapat dilihat dari kegiatan sehari &#8211; harinya suku Dayak, seperti berburu, bertani, dan berkebun.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-143" title="kuala-lumpur-national-museum-dayak-head-hunter-from-sarawak" src="http://sariyatno.com/wp-content/uploads/kuala-lumpur-national-museum-dayak-head-hunter-from-sarawak-215x300.jpg" alt="uluh-dayak" width="215" height="300" /></p>
<p align="justify">Kata <em>Dayak</em> menurut R. Sunardi dan O. K. Rahmat, keduanya menyatakan bahwa <em>Dayak</em> adalah sebuah kata untuk menyatakan suatu kelompok yang tidak menganut agama Islam dan hidup menetap di pedalaman Kalimantan. Istilah ini juga yang diberikan oleh bangsa Melayu yang hidup di daerah pesisir Kalimantan yang berarti gunung. Bangsa Melayu pada waktu itu adalah sekelompok masyarakat yang tidak lain dan tidak bukan adalah masyarakat yang berasal dari daerah Melayu dan berbahasa Melayu pula.Tetapi akan lain pengertiannya jika yang disebut orang Melayu adalah orang <em>Dayak</em> yang sudah memeluk agama Islam.</p>
<p><span id="more-141"></span></p>
<p align="justify">Jika dilihat dari pandangan orang Dayak sendiri, yang disebut sebagai orang Melayu adalah sekelompok orang yang berasal dari daerah Melayu dan para pendatang lain yang berdatangan ke Kalimantan, kecuali kelompok Tionghoa, yang mendiami Kalimantan. Orang &#8211; orang Melayu mengatakan bahwa <em>Dayak</em> itu berarti <em>orang gunung</em>. Tidak ada kamus atau para ahli yang menyatakan bahwa kata <em>Dayak</em> itu berarti <em>orang gunung</em>, hal itu disebabkan karena sebagian besar dari orang <em>Dayak</em> menetap di daerah hulu sungai dan topografi tanahnya bergunung &#8211; gunung tetapi tidak berarti orang <em>Dayak</em> adalah <em>orang gunung</em>.  Di samping nama <em>Dayak</em> ada juga istilah <em>Dyak</em> . Istilah <em>Dyak</em> ini diberikan oleh orang Inggris dulu kepada suku &#8211; suku Dayak di Kalimantan Utara (Malaysia).</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-158" title="acara balian" src="http://sariyatno.com/wp-content/uploads/balian-300x195.jpg" alt="acara balian" width="300" height="195" /></p>
<p align="justify">Suku Dayak yang Menetap di pulau Kalimantan itu tersebar di seluruh bagian Kalimantan dan hidup tersebar &#8211; sebar, di daerah hulu sungai, di daerah yang tofografinya gunung &#8211; gunung, lembah &#8211; lembah, dan di kaki bukit. Untuk menyebut jati diri mereka, orang Dayak biasanya memakai nama aliran sungai besar yang daerah pesisirnya mereka diami. Misalnya orang Dayak yang mendiami daerah pesisir sungai Kahayan, mereka menyebut jati diri mereka sebagai <em>uluh Kahayan</em> (orang Kahayan). Ada <em>uluh Katingan, uluh Barito, dan lain sebagainya</em>.</p>
<p align="justify">Di antara orang &#8211; orang Dayak itu sendiri , ada sekelompok orang yang berkeberatan memakai kata <em>Dayak</em> sehingga muncullah istilah yang lain, yairu <em>Daya</em>. Istilah <em>Daya</em> ini sangat populer di daerah Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. Kata <em>Dayak</em> dan <em>Daya</em> sebenarnya merujuk pada satu suku saja, yaitu suku Dayak. Dan dalam bahasa Dayak Ngaju kedua kata itu merupakan sebuah kata sifat yang menunjuk pada suatu kekuatan. Dalam bahasa Sangen kata <em>Dayak</em> dan <em>Daya</em> itu berarti bakena (gagah).</p>
<p>Di kutip dari <em>&#8220;Encyclopoedie Nederlandsch Indie Op Het Woord Dayak&#8221;</em></p>
<p>Gambar di ambil dari <a href="http://www.kualalumpurcentral.com">http://www.kualalumpurcentral.com</a></p>
<h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li>15 Maret 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/03/15/sumpit/" title="Sumpit!">Sumpit!</a> (36)</li><li>25 Juli 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/07/25/hutan-hujan-tropis/" title="Hutan Hujan Tropis ">Hutan Hujan Tropis </a> (17)</li><li>14 Februari 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/02/14/oh-palangka-raya/" title="oh, Palangka Raya!!">oh, Palangka Raya!!</a> (15)</li><li>12 Februari 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/02/12/gua-di-kalteng/" title="Gua di KalTeng">Gua di KalTeng</a> (6)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sariyatno.com/2009/03/06/dayak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mandau!</title>
		<link>http://sariyatno.com/2009/02/25/mandau/</link>
		<comments>http://sariyatno.com/2009/02/25/mandau/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2009 08:10:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bintang Sariyatno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Profil]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[jangang]]></category>
		<category><![CDATA[kayu kayamihing]]></category>
		<category><![CDATA[kumpang]]></category>
		<category><![CDATA[mandau]]></category>
		<category><![CDATA[mantikei]]></category>
		<category><![CDATA[pulang mandau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sariyatno.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Pada jaman dulu jika terjadi peperangan, suku Dayak pada umumnya menggunakan senjata khas mereka, yaitu mandau. Mandau merupakan sebuah pusaka yang secara turun &#8211; temurun yang digunakan oleh suku Dayak dan diaanggap sebagai sebuah benda keramat. Selain digunakan pada saat peperangan mandau juga biasanya dipakai oleh suku Dayak untuk menemani mereka dalam melakukan kegiatan keseharian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Pada jaman dulu jika terjadi peperangan, suku Dayak pada umumnya menggunakan senjata khas mereka, yaitu <em>mandau</em>. <em>Mandau</em> merupakan sebuah pusaka yang secara turun &#8211; temurun yang digunakan oleh suku Dayak dan diaanggap sebagai sebuah benda keramat. Selain digunakan pada saat peperangan mandau juga biasanya dipakai oleh suku Dayak untuk menemani mereka dalam melakukan kegiatan keseharian mereka, seperti menebas atau memotong daging, tumbuh &#8211; tumbuhan, atau benda &#8211; benda lainnya yang perlu untuk di potong.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-114" title="mandau" src="http://sariyatno.com/wp-content/uploads/mandau.jpg" alt="mandau" width="170" height="300" /></p>
<p align="justify">Biasanya orang awam akan sering kebingungan antara <em>mandau</em> dan <em>ambang</em>, Orang awam atau orang yang tidak terbiasa melihat atau pun memegang <em>mandau</em> akan sulit untuk membedakan antara <em>mandau</em> dengan <em>ambang</em> karena jika dilihat secara kasat mata memang keduanya hampir sama. Tetapi, keduanya sangatlah berbeda. Namun jika kita melihatnya dengan lebih detail maka akan terlihat perbedaan yang sangat mencolok, yaitu pada <em>mandau</em> terdapat ukiran atau bertatahkan emas, tembaga, atau perak dan <em>mandau</em> lebih kuat serta lentur, karena mandau terbuat dari batu gunung yang mengandung besi dan diolah oleh seorang ahli, sedangkan <em>ambang</em> hanya terbuat dari besi biasa, seperti besu per mobil, bilah gergaji mesin, cakram kendaraan atau batang besi lain.</p>
<p><span id="more-113"></span></p>
<p align="justify"><em>Mandau</em> atau <em>Ambang Birang Bitang Pono Ajun Kajau</em> harus disimpan dan dirawat dengan baik ditempat khusus untuk penghormatan. Karena suku Dayak yakin bahwa <em>mandau</em> memiliki kekuatan spiritual yang mampu melindungi pemiliknya dari serangan atau niat jahat dari lawan &#8211; lawannya. Dan <em>mandau</em> juga diyakini dijaga oleh seorang perempuan, dan jika pemilik <em>mandau</em> tersebut bermimpi bertemu dengan perempuan yang menghuni <em>mandau</em>, berarti sang pemilik akan mendapatkan rejeki.</p>
<p align="justify"><em>Mandau</em> selain dibuat dari besi batuan gunung lalu diukir, <em>pulang</em> atau hulu mandau (tempat untuk memegang) dibuat berukiran dengan menggunakan tanduk kerbau untuk yang <em>pulangnya</em> berwarna hitam. Dan menggunakan tanduk rusa untuk <em>pulang</em> yang berwarna putih. Pembuatan <em>pulang</em> dapat juga menggunakan kayu <em>kayamihing</em>. Pada bagian ujung dari <em>pulang</em> diberi atau ditaruh bulu binatang atau rambut manusia. Untuk dapat melengkatkan sebuah <em>mandau</em> dengan <em>pulang</em> dapat menggunakan getah kayu <em>sambun</em> yang terbukti sangat kuat kerekatannya.Setelah itu kemudian diikat lagi dengan <em>jangang</em>, namun jika <em>jangang</em> sulit ditemukan dapat menggunakan <em>uei</em> (anyaman rotan).</p>
<p><img class="aligncenter size-thumbnail wp-image-122" title="kuluk-mandau2" src="http://sariyatno.com/wp-content/uploads/kuluk-mandau2-150x150.jpg" alt="kuluk-mandau2" width="150" height="150" /></p>
<p align="justify">Besi <em>mantikei</em> yang digunakan untuk bahan baku pembuatan <em>mandau</em> dapat ditemukan didaerah Kerang Gambir, sungai Karo Jangkang, sungai Mantikei anak sungai Samba simpangan sungai Katingan, dan desa Tumbang Atei.</p>
<p align="justify">Tidak lengkap kiranya jika <em>mandau</em> tidak memiliki <em>kumpang</em>.    <em>Kumpang</em> ialah sebutan sarung untuk <em>mandau</em>, <em>kumpang mandau</em> merupakan tampat masuknya mata <em>mandau</em> biasanya dilapisi tanduk rusa. Pada <em>kumpang mandau</em> diberi <em>tempuser undang</em>, yaitu ikatan yang terbuat dari anyaman <em>uei</em> (rotan).</p>
<p align="justify">Pada bagian depan <em>kumpang</em> dibuat sebuah sarung kecil tempat menyimpan <em>langgei Puai</em>. <em>Langgei Puai</em> adalah sejenis pisau kecil sebagai pelengkap <em>mandau</em>. Tangkainya panjang sekitar 20 cm dari mata <em>langgei</em>, bentuknya lebih kecil dari pada tangkainya. Fungsi dari <em>langgei puai</em> adalah untuk menghaluskan atau membersihkan benda &#8211; benda, contohnya rotan. Sarung atau <em>kumpang langgei</em> selalu melekat pada <em>kumpang mandau</em>. Sehingga dapat dikatakan bahwa antara <em>mandau</em> dan <em>langgei puai</em> adalah sebuah kesatuan yang tidak dapat terpisahkan.</p>
<p>Di kutip dari buku <em>&#8220;Maneser Panatau Tatu Hiang&#8221;</em></p>
<p>Gambar diambil dari <a href="http://www.valiantco.com">http://www.valiantco.com</a></p>
<h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li>11 Mei 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/05/11/betangcom/" title="betang.COM">betang.COM</a> (11)</li><li>12 Februari 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/02/12/gua-di-kalteng/" title="Gua di KalTeng">Gua di KalTeng</a> (6)</li><li>25 Juli 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/07/25/hutan-hujan-tropis/" title="Hutan Hujan Tropis ">Hutan Hujan Tropis </a> (17)</li><li>9 April 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/04/09/betang/" title="BETANG">BETANG</a> (24)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sariyatno.com/2009/02/25/mandau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>oh, Palangka Raya!!</title>
		<link>http://sariyatno.com/2009/02/14/oh-palangka-raya/</link>
		<comments>http://sariyatno.com/2009/02/14/oh-palangka-raya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Feb 2009 18:07:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bintang Sariyatno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Sumber Daya]]></category>
		<category><![CDATA[jembatan kahayan]]></category>
		<category><![CDATA[Kalimantan Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[pahandut]]></category>
		<category><![CDATA[Palangka Raya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sariyatno.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Palangka Raya adalah ibukota dari Kalimantan Tengah, walaupun tergolong kota kecil tapi damai dan tenang. Palangka Raya punya banyak keunikan, contoh: Bundarannya, sungainya, hutannya yang masih tergolong banyak dari Ibukota pada umumnya. Tapi hidup di Palangka Raya itu enak, contohnya; jalan nggak ada yang macet, orangnya ramah &#8211; ramah, tidak ada polusi udara, aman, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Palangka Raya adalah ibukota dari Kalimantan Tengah, walaupun tergolong kota kecil tapi damai dan tenang. Palangka Raya punya banyak keunikan, contoh: Bundarannya, sungainya, hutannya yang masih tergolong banyak dari Ibukota pada umumnya. Tapi hidup di Palangka Raya itu enak, contohnya; jalan nggak ada yang macet, orangnya ramah &#8211; ramah, tidak ada polusi udara, aman, dan nyaman.</p>
<p>Palangka Raya dulunya adalah sebuah desa yang bernama desa Pahandut, dan karena ada pemekaran provinsi. Pada awalnya Kalimantan Tengah menjadi satu provinsi dengan Kalimantan Selatan. Karena masyarakat Kalimantan Tengah ingin untuk mengatur dirinya sendiri. Maka, Kalimantan Tengah pun berpisah dari Kalimantan Selatan.</p>
<p>Palangka Raya resmi menjadi ibukota provinsi Kalimantan Tengah pada tanggal 17 Juli 1957. Berdirinya Palangka Raya di resmikan oleh Presiden I RI, yakni Bapak Ir Soekarno.  Walaupun kotanya nggak rame kaya di Pulau Jawa, tapi itulah keunikannya kota Palangka Raya.</p>
<p>Kenapa unik???????????????????????</p>
<p><span id="more-61"></span></p>
<p>Palangka Raya itu merupakan salah satu ibukota di Indonesia yang di tengah kotanya dialiri oleh sungai besar nama sungainya sungai Kahayan. Sungai Kahayan layaknya Sungai Musi di Sumatra Selatan dan banyak $menyediakan kebutuhan bagi masyarakat di sekitar. Hampir semua penduduk yang hidupnya di sekitar bantaran sungai Kahayan rata &#8211; rata mempunyai profesi sebagai nelayan atau hidup  sebagai penambang emas. Di pinggir sungai Kahayan banyak terdapat rumah &#8211; rumah terapung atau yang kata masyarakat sekitar sering disebut lanting. Pada bagian bawah dari lanting biasannya digunakan oleh penduduk untuk tambak atau tempat memelihara berbagai jenis ikan.Contohnya: ikan tombro (<em>Cyprinus carpio</em>),dll.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-65" title="jembatan" src="http://sariyatno.com/wp-content/uploads/jembatan-300x199.jpg" alt="jembatan" width="300" height="199" /></p>
<p>Semua kegiatan sehari &#8211; hari  masyarakat sangat bergantung pada aliran sungai Kahayan, sehingga sungai ini memiliki nilai tersendiri bagi masyarakat yang tinggal di bantaran sungai. Jembatan Kahayan juga sering digunakan oleh masyarakat sekitar untuk tempat santai &#8211; santai sambil menunggu malam (matahari terbenam). Tapi, ada unik dari Jembatan Kahayan, yaitu pasti dijaga oleh polisi kalo mau pengumuman kelulusan anak SMA atau sederajad. TAkutnya, ada yang nekat mau mengakhiri hidupnya jika tidak lulus ujian nasional.</p>
<p>foto diambil dari<a href="http://jalanjalanterus.wordpress.com"> http://jalanjalanterus.wordpress.com</a></p>
<h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li>11 Mei 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/05/11/betangcom/" title="betang.COM">betang.COM</a> (11)</li><li>17 Februari 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/02/17/tiwah/" title="TIWAH?">TIWAH?</a> (39)</li><li>12 Februari 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/02/12/gua-di-kalteng/" title="Gua di KalTeng">Gua di KalTeng</a> (6)</li><li>12 Februari 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/02/12/kalimantan-tengah-kita/" title="Kalimantan Tengah Kita">Kalimantan Tengah Kita</a> (3)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sariyatno.com/2009/02/14/oh-palangka-raya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
