<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bintang Sariyatno &#187; kumpang</title>
	<atom:link href="http://sariyatno.com/tag/kumpang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sariyatno.com</link>
	<description>ela sampai itah dia bingat narai je kuan tatu hiang huran</description>
	<lastBuildDate>Sun, 26 Jul 2009 12:35:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mandau!</title>
		<link>http://sariyatno.com/2009/02/25/mandau/</link>
		<comments>http://sariyatno.com/2009/02/25/mandau/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2009 08:10:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bintang Sariyatno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Profil]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[jangang]]></category>
		<category><![CDATA[kayu kayamihing]]></category>
		<category><![CDATA[kumpang]]></category>
		<category><![CDATA[mandau]]></category>
		<category><![CDATA[mantikei]]></category>
		<category><![CDATA[pulang mandau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sariyatno.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Pada jaman dulu jika terjadi peperangan, suku Dayak pada umumnya menggunakan senjata khas mereka, yaitu mandau. Mandau merupakan sebuah pusaka yang secara turun &#8211; temurun yang digunakan oleh suku Dayak dan diaanggap sebagai sebuah benda keramat. Selain digunakan pada saat peperangan mandau juga biasanya dipakai oleh suku Dayak untuk menemani mereka dalam melakukan kegiatan keseharian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Pada jaman dulu jika terjadi peperangan, suku Dayak pada umumnya menggunakan senjata khas mereka, yaitu <em>mandau</em>. <em>Mandau</em> merupakan sebuah pusaka yang secara turun &#8211; temurun yang digunakan oleh suku Dayak dan diaanggap sebagai sebuah benda keramat. Selain digunakan pada saat peperangan mandau juga biasanya dipakai oleh suku Dayak untuk menemani mereka dalam melakukan kegiatan keseharian mereka, seperti menebas atau memotong daging, tumbuh &#8211; tumbuhan, atau benda &#8211; benda lainnya yang perlu untuk di potong.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-114" title="mandau" src="http://sariyatno.com/wp-content/uploads/mandau.jpg" alt="mandau" width="170" height="300" /></p>
<p align="justify">Biasanya orang awam akan sering kebingungan antara <em>mandau</em> dan <em>ambang</em>, Orang awam atau orang yang tidak terbiasa melihat atau pun memegang <em>mandau</em> akan sulit untuk membedakan antara <em>mandau</em> dengan <em>ambang</em> karena jika dilihat secara kasat mata memang keduanya hampir sama. Tetapi, keduanya sangatlah berbeda. Namun jika kita melihatnya dengan lebih detail maka akan terlihat perbedaan yang sangat mencolok, yaitu pada <em>mandau</em> terdapat ukiran atau bertatahkan emas, tembaga, atau perak dan <em>mandau</em> lebih kuat serta lentur, karena mandau terbuat dari batu gunung yang mengandung besi dan diolah oleh seorang ahli, sedangkan <em>ambang</em> hanya terbuat dari besi biasa, seperti besu per mobil, bilah gergaji mesin, cakram kendaraan atau batang besi lain.</p>
<p><span id="more-113"></span></p>
<p align="justify"><em>Mandau</em> atau <em>Ambang Birang Bitang Pono Ajun Kajau</em> harus disimpan dan dirawat dengan baik ditempat khusus untuk penghormatan. Karena suku Dayak yakin bahwa <em>mandau</em> memiliki kekuatan spiritual yang mampu melindungi pemiliknya dari serangan atau niat jahat dari lawan &#8211; lawannya. Dan <em>mandau</em> juga diyakini dijaga oleh seorang perempuan, dan jika pemilik <em>mandau</em> tersebut bermimpi bertemu dengan perempuan yang menghuni <em>mandau</em>, berarti sang pemilik akan mendapatkan rejeki.</p>
<p align="justify"><em>Mandau</em> selain dibuat dari besi batuan gunung lalu diukir, <em>pulang</em> atau hulu mandau (tempat untuk memegang) dibuat berukiran dengan menggunakan tanduk kerbau untuk yang <em>pulangnya</em> berwarna hitam. Dan menggunakan tanduk rusa untuk <em>pulang</em> yang berwarna putih. Pembuatan <em>pulang</em> dapat juga menggunakan kayu <em>kayamihing</em>. Pada bagian ujung dari <em>pulang</em> diberi atau ditaruh bulu binatang atau rambut manusia. Untuk dapat melengkatkan sebuah <em>mandau</em> dengan <em>pulang</em> dapat menggunakan getah kayu <em>sambun</em> yang terbukti sangat kuat kerekatannya.Setelah itu kemudian diikat lagi dengan <em>jangang</em>, namun jika <em>jangang</em> sulit ditemukan dapat menggunakan <em>uei</em> (anyaman rotan).</p>
<p><img class="aligncenter size-thumbnail wp-image-122" title="kuluk-mandau2" src="http://sariyatno.com/wp-content/uploads/kuluk-mandau2-150x150.jpg" alt="kuluk-mandau2" width="150" height="150" /></p>
<p align="justify">Besi <em>mantikei</em> yang digunakan untuk bahan baku pembuatan <em>mandau</em> dapat ditemukan didaerah Kerang Gambir, sungai Karo Jangkang, sungai Mantikei anak sungai Samba simpangan sungai Katingan, dan desa Tumbang Atei.</p>
<p align="justify">Tidak lengkap kiranya jika <em>mandau</em> tidak memiliki <em>kumpang</em>.    <em>Kumpang</em> ialah sebutan sarung untuk <em>mandau</em>, <em>kumpang mandau</em> merupakan tampat masuknya mata <em>mandau</em> biasanya dilapisi tanduk rusa. Pada <em>kumpang mandau</em> diberi <em>tempuser undang</em>, yaitu ikatan yang terbuat dari anyaman <em>uei</em> (rotan).</p>
<p align="justify">Pada bagian depan <em>kumpang</em> dibuat sebuah sarung kecil tempat menyimpan <em>langgei Puai</em>. <em>Langgei Puai</em> adalah sejenis pisau kecil sebagai pelengkap <em>mandau</em>. Tangkainya panjang sekitar 20 cm dari mata <em>langgei</em>, bentuknya lebih kecil dari pada tangkainya. Fungsi dari <em>langgei puai</em> adalah untuk menghaluskan atau membersihkan benda &#8211; benda, contohnya rotan. Sarung atau <em>kumpang langgei</em> selalu melekat pada <em>kumpang mandau</em>. Sehingga dapat dikatakan bahwa antara <em>mandau</em> dan <em>langgei puai</em> adalah sebuah kesatuan yang tidak dapat terpisahkan.</p>
<p>Di kutip dari buku <em>&#8220;Maneser Panatau Tatu Hiang&#8221;</em></p>
<p>Gambar diambil dari <a href="http://www.valiantco.com">http://www.valiantco.com</a></p>
<h3  class="related_post_title">Artikel Terkait</h3><ul class="related_post"><li>15 Maret 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/03/15/sumpit/" title="Sumpit!">Sumpit!</a> (36)</li><li>6 Maret 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/03/06/dayak/" title="Dayak?">Dayak?</a> (23)</li><li>12 Februari 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/02/12/gua-di-kalteng/" title="Gua di KalTeng">Gua di KalTeng</a> (6)</li><li>25 Juli 2009 -- <a href="http://sariyatno.com/2009/07/25/hutan-hujan-tropis/" title="Hutan Hujan Tropis ">Hutan Hujan Tropis </a> (17)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sariyatno.com/2009/02/25/mandau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
